System thinking dalam Agroindustri

Posting ini terinspirasi oleh sebuah paper dalam jurnal “Journal Dairy Science” yang ditulis oleh Richard Bawden dengan judul “Systems thinking and practice in agriculture“. Saya sempet mikir, apabila selama ini aplikasi dari systems thinking pada pertanian perlu dirubah, maka ada baiknya system thinking pada agroindustri juga perlu menyesuaikan.

Selama ini aplikasi system thinking berikut pendekatan sistem pada agroindustri banyak mengadopsi perspektif sistem dalam dunia industri non-pertanian. Tidak mengherankan, karena secara bidang kajian akademis, konsep mengenai agroindustri diadopsi dari teknik industri yang notabene lebih banyak menggunakan pendekatan hard systems thinking and approach yang memandang sebuah sistem industri itu terstruktur dan bisa dimodelkan dengan berbasis struktur. Pendekatan yang demikian memungkinkan memodelkan suatu sistem sehingga bisa optimal, efisien dan sekaligus produktif. Yang sering dilupakan adalah bahwa sistem agroindustri tidak lepas dari sistem rantai nilai komoditas pertanian secara keseluruhan. Dengan pendekatan hard system dan mengasumsikan sisi hulu sebagaimana industri lain pada umumnya, maka melupakan bagian keseluruhan dari sistem rantai nilai pertanian.

Suatu studi Onto-systemik (meminjam istilah Bawden) perlu dilakukan sebelum melakukan studi Episistemik. Adalah menjadi sesuatu yang naif, apabila ingin menyelesaikan permasalahan agroindustri secara sistemik dengan melakukan “cut and paste” dari model sistem industri non-pertanian yang jelas-jelas memiliki karakteristik yang berbeda dengan industri lain. Agroindustri yang di-gadhang-gadhang menjadi pemberi nilai tambah pertanian Indonesia justru akan menjadikan pertanian Indonesia sebagai sapi perah bagi kapitalisme global.

Kita jangan lupakan, bahwa besarnya industri mobil Amerika era Detroit dulu besar karena dukungan kebijakan pemerintah federal yang kemudian disebut sebagai Fordisme ? Kebijakan industri sebuah negara penting untuk menyokong tumbuhnya suatu industri secara sistemik. Padahal industri mobil tidak mempengaruhi kehidupan masyarakat pedesaan yang merupakan rumah bagi sebagian besar masyarakat suatu negara. Sebaliknya kebijakan pertanian dan industri pertanian akan sangat berpengaruh terhadap masyarakat pedesaan yang sering sekali secara sistemik dan sistematis tidak memperoleh kue/share yang adil.

Lalu, apakah arti semua ini ? Apakah itu yang diinginkan oleh founding fathers berbagai jurusan/departemen agroindustri ?

Sistem agroindustri perlu disokong oleh perspektif sistem, namun, perspektif sistem yang mana ? Ataukah agroindustri itu bersifat sistemik sebagaimana selama ini digambarkan ?  Afterall, do we all know what a system is ?

Advertisements

“Hard Systems Thinking” dan “Soft Systems Thinking” dalam sistem agroindustri

Saya suka membaca buku dan membaca ayat alam dan tentunya membaca Kitab Suci. Sering sekali aku terangguk-angguk dengan keterkaitan antara apa yang aku baca dalam Kitab Suci al-Qur’an, buku yang aku baca ketika membaca hikmah kehidupan melalui membaca ayat alam. Namun sering sekali aku tidak mencatat kalimat-kalimat bijak. Namun one thing for sure, ijinkan saya menyitir beberapa kalimat yang saya baca dari beberapa buku. Mudah-mudahan tidak dianggap plagiat.

“How you see this world determines what you see”

“What you see determines how you act towards what you see”

“How you act depends on what you are using”

Itulah sebenarnya pernyataan-pernyataan yang membawaku untuk melihat kembali applikasi sistem dalam dunia pertanian. Apakah sistem agroindustri (sistem industri pertanian) merupakan subsistem dari sistem agribisnis yang juga merupakan subsistem dari pertanian secara umum ? Ataukah sistem agroindustri merupakan sebuah sistem dimana elemen-elemennya bertujuan untuk mencapai tujuan dari sebuah agroindustri, yaitu memberikan nilai tambah dengan biaya optimal dengan mempertimbangkan karakter khas dari bahan baku pertanian ?

Seorang teman pernah bertanya, “Bukankah yang kamu lakukan itu mundur sekian langkah ?”. Ia bertanya demikian, karena diskursus mengenai sistem boundary atau batasan sebuah sistem telah terjadi di era 1970-1980 ketika Peter Checkland men-“dakwah”-kan konsep mengenai Soft Systems Methodology dan Soft OR. Sebuah kritik atas perkembangan System Thinking yang positivistik yang terjadi pada era 1950-1970 ? Namun, aplikasi OR/MS/Teknik Industri di dunia pertanian belum pernah di diskursuskan karena dalam blantika teknologi industri pertanian, tidak ada dalam kurikulum perguruan tinggi, kecuali di Thailand dan Indonesia. Kalaupun ada, istilah teknologi industri pertanian merupakan ekstensi dari teknik kimia, sehingga kajian yang dikedepankan lebih kepada teknologi proses,bukannya teknik industri.

Lalu saya jawab, “Bukankah anda juga setuju bahwa segala sesuatu di dunia ini bekerja secara sistemik ? Dan segala sesuatu di dunia ini bisa dimodelkan menjadi sebuah model sistem ? Nah, apakah model yang anda buat dan model yang saya buat akan realitas yang sama bisa berbeda-beda ?”.

Kebetulan beliau adalah system analyst yang mengembangkan model untuk Decision Support System. Sebagaimana kita ketahui, Decision Support System merupakan piranti untuk membantu pengambil keputusan. Alasan utama dalam pembuatan DSS adalah keterbatasan pengambil keputusan dalam mengolah data dan informasi yang semakin hari semakin banyak. Kriteria dan variabel pengambilan keputusan sangat beragam. Belum lagi pengolahan data menjadi informasi dan kemudian menggenerate informasi sehingga bisa menjadi basis bagi pengambil keputusan.

Pertama tama dalam membuat sebuah model adalah, apakah model tersebut sesuai dengan konteks yang dihadapi ? Apakah sudut pandang kita sebagai desainer sistem sudah tepat dalam melihat permasalahan yang ada ? Bukankah rekan saya yang memodelkan DSS bukan hanya memodelkan sistem kausalitas yang ada dalam software tersebut, namun mendefinisikan sistem yang harus dihadapi oleh pengambil keputusan.

Apakah batasan sebuah sistem ? Batasan sebuah sistem dipengaruhi bagaimana kita melihat sebuah realitas ? Pada era perkembangannya, karena pertumbuhan ekonomi Paska Perang Dunia menuntut persaingan dalam hal pemenuhan supply bagi konsumen. Pada saat PD II, semua daya usaha negara Amerika Serikat dan sebagian besar Eropa Barat yang pada waktu itu dianggap motor industrialisasi, sedang diarahkan untuk memenangkan peperangan. Industri yang berkembang adalah industri persenjataan, metode optimasi lebih diarahkan kepada urusan logistik militer, matematika dan statistika yang kemudian berkembang menjadi ilmu komputer pada waktu itu digunakan untuk menghitung probabilitas serangan musuh. Boleh dikatakan Operations Research menjadi ujung tombak semua itu.

Era Paska Perang Dunia II diwarnai dengan aplikasi OR dalam dunia sipil manajemen perusahaan yang kemudian berkembang menjadi bidang Management Science. OR/MS ini di Amerika Serikat kemudian berkembang menjadi Industrial Engineering yang masuk ke dalam bidang Keteknikan dengan obyek kajiannya adalah Industri. Core-nya adalah bagaimana mengoptimalkan sebuah sistem industry pada ranah mikro (lantai pabrik). Di belahan bumi lain, yaitu Inggris, bidang OR/MS berkembang menjadi Soft OR yang masuk ke dalam kajian Management Science.

Di Indonesia, jurusan Teknik Industri pertama dibuka di Institut Teknologi Bandung yang berkembang dari Teknik Mesin. Ide aplikasi konsep-konsep Teknik Industri pada kasus industri pertanian kemudian menginspirasi berdirinya jurusan/departemen Teknologi Industri Pertanian, yaitu di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1980 dan diikuti jurusan Teknologi Pertanian di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1987. Setelah keduanya, kemudian berdiri beberapa jurusan/departemen serupa di seluruh Indonesia dengan berbagai corak perkembangan. Beberapa diantaranya kemudian lebih berat ke teknologi proses, sebagian yang lain lebih banyak ke teknologi industri.

Yang kemudian menjadi permasalahan bukanlah pada corak perkembangannya, namun sudut pandang terhadap sebuah sistem agroindustri. Karena awalnya sebuah sistem agroindustri secara totalitas merupakan sebuah sistem dimana elemen-elemennya berusaha untuk mencapai tujuan yang sama. Lalu pertanyaannya, apakah pelaku di dalamnya memiliki tujuan yang sama ? Apabila agroindustri didefinisikan sebagai sebuah sistem yang memberikan nilai tambah, maka perspektif mekanistik “hard systems thinking” digunakan. Sehingga input yang masuk ke dalam sistem adalah raw material, modal, dan pekerja sedangkan sistem adalah fungsi-fungsi yang mengolah semua itu menjadi produk jadi, jasa, keuntungan dan tentunya, by-product atau hasil sampingan berupa limbah. Sampai disini tidak ada masalah, karena boundary yang kita berikan adalah sebuah sistem mekanistik. Namun, apabila tujuannya adalah memberikan nilai tambah dan kesejahteraan bagi penyedia raw material, yaitu petani, maka hal ini perlu disikapi dengan kritis.

Sudut pandang mekanistik memang sesuai dengan doktrin dari Teknik Industri, yaitu menyederhanakan masalah atau KISS (Keep It Simple Stupid) sehingga memudahkan masalah untuk diselesaikan. Namun, konsekuensinya adalah apabila sebuah pabrik agroindustri yang dimiliki oleh sebuah perusahaan ingin mencapai tujuan (higher profit, optimal dalam menggunakan sumber daya dsb) maka elemen-elemen dalam sistem perlu di-engineer atau direkayasa untuk menuju ke arah tersebut. Raw Material atau bahan baku perlu tersedia untuk memenuhi permintaan pabrik, yang kemudian pabrik membuat sesuai permintaan konsumen. Apabila perusahaan menciptakan demand melalui pemasaran, maka pabrik perlu mendapatkan supply bahan baku. Maka kemudian berkembanglah konsep supply chain management sebagai upaya sebuah perusahaan dapat menciptakan supply kontinyu bagi pabrik-pabriknya. Yang menjadi permasalahan adalah, karakteristik bahan baku komoditas pertanian berbeda-beda struktur pasarnya. Perusahaan FMCG memiliki pabrik kecap yang memerlukan kedelai hitam. Perusahaan menciptakan demand melalui iklan di berbagai media dan kemudian “menyuruh”pabrik untuk memproduksi kecap. Terdapat keterkaitan antara demand, kapasitas pabrik dan las but not least, dengan supply atau pasokan.

Pabrik akan rugi secara opportunity dan cost. Opportunity cost karena apabila tidak tersedia kecap di warung atau supermarket maka ada potensi konsumen pindah ke produk lain yang diproduksi perusahaan lain. Cost, karena apabila pabrik sudah di-set-up namun tidak bisa mendapatkan bahan baku, perusahaan akan rugi. Lalu, dari manakah pabrik memperoleh bahan baku ? Yaitu dari supplier di pasar maupun dari dedicated company yang melayani pembelian partai besar. Nah, hanya sampai disinilah pembahasan mengenai rantai pasok. Bagaimana dengan petani ?

Sudut pandang mekanistik pada agroindustri sesuai untuk kondisi yang bisa dikendalikan atau dengan sudut pandang sistem terkendali. Konsep kybernetes ala Plato dapat dipergunakan disini. Pendekatan system yang seperti ini sangat ampuh, dengan syarat, sistem bisa dikendalikan. Dalam buku Jackson “Systems Approach to Management”, pendekatan semacam ini disebut sebagai pendekatan fungsionalist. Lebih banyak mengenai pendekatan fungsionalist ini dapat dibaca di-blog Modeling 2020 : perspective and approach to systems (dalam bahasa Indonesia).

Apabila boundary yang kita buat berdasarkan prinsip mekanistik, maka kita menentukan sebuah struktur berdasarkan asumsi positivistik sang pengamat yang biasanya berasal dari perspektif industri. Bagaimana apabila perspektif yang dilihat dari sudut pandang pengamat sosial dengan latar belakang sosiologi kualitatif. Atau, barangkali yang melihat adalah petani yang memiliki sudut pandang sebagai bagian dari suatu masyarakat pedesaan, dengan tujuan hidup kecukupan dalam ketidakpastian jumlah panen, namun dia harus tetap memenuhi kebutuhan hidup meski hasil panen tidak sesuai dengan harapan. Bagaimana apabila harga jual petani sangat rendah karena harus mengangkut hasil panenan ke pasar kabupaten dengan biaya transportasi jumlah tertentu. Atau, menjual kepada middle-men atau pedagang antara kampung dengan kemudahan angkutan namun dengan harga yang lebih murah ? Atau, pedagang antara tidak ingin rugi akibat resiko akhirnya mengkompensasikan resiko itu kepada harga petani ? Permasalahan menjadi semakin rumit bukan ?

Sebuah telaah kritis atas aplikasi konsep rantai pasok dalam dunia pertanian

Agroindustri merupakan industri yang mengolah bahan baku hasil pertanian menjadi produk yang bernilai lebih tinggi. Hasil pertanian yang dimaksud adalah pertanian dalam arti luas, termasuk hasil perikanan dan hasil kehutanan.

Agribisnis di sisi lain adalah bisnis hasil pertanian dalam artian luas. Misalnya agribisnis cabe, agribisnis kentang, agribisnis pisang yang didalamnya terdapat transaksi jual beli.

Mengapa sering sekali rancu antara agribisnis dan agroindustri, padahal istilah “bisnis” dan “industri” banyak kita dengar dalam “dunia” non pertanian, sedangkan penggunaan kedua kata dalam pertanian sering rancu. Misal, rantai pasok agribisnis, rantai pasok agroindustri dan rantai pasok agriculture versus rantai pasok (tanpa embel-embel bisnis dan industri) sudah menunjuk pada bagaimana perusahaan memperoleh pasokan untuk kemudian dijual kepada konsumen-nya.

Bukankan lebih simpel saja menyebut istilah rantai pasok agribisnis, rantai pasok agroindustri, dan rantai pasok agriculture sebagai rantai pasok agriculture saja (rantai pasok pertanian) ? Sedangkan embel embel di belakang istilah rantai pasok bisa berupa komoditasnya, bisa berupa produk maupun jasa.

Banyak sekali kerancuan-kerancuan dalam dunia pertanian yang terjadi. Barangkali hal ini disebabkan karena model-model maupun metode yang pertama kali dikembangkan di dunia manufaktur kemudian di-adopsi ke dalam dunia pertanian. Sedangkan adopsi ini kurang memperhatikan konteks beserta filosofinya, sehingga pada akhirnya terjadi kerancuan itu.

Ada seorang teman yang bertanya, “Mengapakah harus memperhatikan filosofis dan konteks segala dalam hal yang sifatnya teknis ?”. Bukankah asal bisa diterapkan, sudah selesai masalah. Oke oke oke. Mari kita berfikir sedikit logis deh Mas. Sekarang kita datang ke pak petani dan bilang, “Pak cangkulnya saya pinjem ya, bapak saya pinjamin serok buat mencangkul”. Apakah sekop yang biasa untuk  mengangkat tanah bisa mensubstitusi cangkul ? Bisa juga loh. Tapi apakah bentuk sekop yang sedemikian rupa mensubstitusi cangkul yang digunakan oleh pak Tani dalam menggarap sawah ?

Bukankah pak Tani harus tahu obyek yang digarap sekaligus alat untuk menggarapnya ? Misalnya harus tahu apa yang digarap, misalnya apakah yang digarap pasir ataukah tanah ? Apakah sekedar memindahkan ataukah menggali lubang ? Oh ya, saya lupa, apakah anda pernah melihat cangkul dan sekop ? Gambar di bawah ini mengilustrasikan apa itu sekop dan apa itu cangkul.

cangkul-dan-sekop

Saya bukan seorang petani, tapi bapak saya dulu bisa kuliah ya karena membantu kakek saya di sawah. Begitu pula aku, walau aku anak kota, namun dulu sering diajari bagaimana bersawah, menggunakan cangkul, menggunakan sekop dan alat-alat pertanian lain. Nah, kembali ke cangkul dan sekop. Filosofinya, sekop adalah untuk menggali dan sekop untuk memindahkan. Meskipun secara teknis sekop bisa untuk menggali, tapi tidak bisa sedalam cangkul sedangkan cangkul bisa memindahkan, namun tidak bisa seunggul sekop dalam memindahkan tanah atau pasir.

So, terkembali pada permasalahan rantai pasok agroindustri, rantai pasok agrobisnis dan rantai pasok pertanian sebagai sebuah filosofi dan konsepsi mengenai bagaimana mengelola bisnis dan industri di bidang pertanian. Apakah kita benar-benar mengenal apa itu bisnis dan industri di bidang pertanian sebelum menggunakan rantai pasok sebagai sebuah konsepsi ? Sebidang tanah, modal dan bibit beserta sarana produksi pertanian merupakan sebuah realitas yang netral. Pengetahuan tentang bagaimana merencanakan kapan menanam, bagaimana mengorganisir, melaksanakan, dan mengendalikan penanaman merupakan manajemen budidaya pertanian. Terdapat pula filosofi kultural yang ada dalam budidaya pertanian. Misalnya filsofi Jawa mengenai bumi dan lingkungan beserta konsepsi mengenai pertanian turut menentukan bagaimana (metodologi) budidaya. Alat atau tools yang digunakan dalam proses budidaya beserta bagaimana menggunakan alat (metode) merupakan bagian dari filosofi dan konsepsi Jawa mengenai bumi, lingkungan dan pertanian. Apabila pertanian padi tradisional, maka filosofi dan konsepsinya adalah bagaimana mengolah sumber air, tanah, bibit dan pupuk alami dengan memperhatikan cuaca melalui petunjuk tradisional (semacam pertanda alam) untuk menentukan kapan menanam (planning). Organizing atau pengorganisasian menggunakan struktur kekerabatan yang jaman dulu sudah mengakar dalam tatanan sosial. Actuating atau aktualisasi juga mengikuti tatanan yang sudah lazim di suatu daerah atau kampung. Pengendalian yang dilakukan juga sama. Disini manajemen budidaya dianggap sebagai metodologi. Sedangkan bagaimana mencangkul merupakan metode dan cangkul merupakan tools yang digunakan.

Apabila yang digunakan adalah pertanian industrial untuk memenuhi pasokan bagi suatu proses industrial, dengan petani yang digaji oleh perusahaan dan lahan dimiliki perusahaan, maka metodologi atau manajemen yang digunakan adalah manajemen modern perusahaan dimana terapat perencanaan sesuai dengan perencanaan perusahaan. Metode dan tools pun bisa berbeda. Bisa menggunakan alat berat semacam excvator untuk membuka lahan, traktor mesin sampai dengan traktor tangan.

Intinya adalah, minimal kita tahu obyek yang kita pelajari, memilih metodologi, metode, dan tools yang digunakan. Begitu pula dalam melihat bisnis dan industri dalam bidang pertanian atau agribisnis dan agroindustri, kita tahu dulu problematical situation konteks dan asumsi filosofis. Apabila metodologi rantai pasok digunakan, asumsi filosofis beserta konteks yang bagaimana dalam melihat problematical situation atau situasi problematis.

Misalnya melihat agribisnis sebagai sistem dan agroindustri sebagai sistem di dalamnya, apakah cocok menggunakan konsep rantai pasok yang pada mulanya dipakai di manufaktur dengan kriteria kinerja sebagaimana SCOR ? ataukah konsep rantai nilai yang lebih sesuai dimana rantai pasok berada di dalamnya ? sedemikian pentingkah melihat konteks rantai pasok agroindustri sebagai bagian dari sistem agribisnis ?

Apabila diibaratkan, apakah metodologi manajemen pertanian tradisional bisa ditransformasikan menjadi pertanian industrial modern tanpa memperhatikan asumsi filosofis dan konsepsi ? Bukankah manajemen (metodologi) pertanian modern ditentukan oleh asumsi filosofis dan konsepsi mengeruk keuntungan dengan menghitung semua aspek untung-rugi tanpa memperhatikan prinsip kekeluargaan dan kebersamaan yang jaman dahulu berakar kuat menggarap sawah bareng-bareng. Sampai ada istilah panen raya, disertai dengan nanggap wayang sebagai rasa sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa ?

Apabila menggunakan konsep rantai pasok, maka peran petani hanya akan dianggap sebagai supplier dari suatu mesin agroindustri yang menghasilkan value-added. Supplier dituntut reliable dan akuntabel dalam artian cost, delivery, timeliness dan berbagai indikator lain. Sedangkan di sisi lain, justru niat penggunaan konsep rantai pasok adalah untuk membangun petani sehingga lebih efisien. Mungkinkah bisa dicapai dengan pendekatan Supply Chain Management ?

Tidak salah dalam penggunaan konsep dan pendekatan rantai pasok, asal saja tahu obyek yang dikaji saja ? Apakah sekedar lancarnya supply suatu komoditas pertanian ataukah juga bertujuan untuk mensejahterakan ? Apabila, misalnya, membuat konsep rantai pasok berkelanjutan, apakah petani beserta kesejahteraannya juga ikut dimasukkan ? Sebuah pertanyaan yang rumit bukan ?

Lalu, untuk agribisnis dan agorindustri, apakah konsep rantai pasok itu sesuai ?

Green Productivity : aplikasi pada agroindustri karet

Produktivitas Hijau atau Green Productivity dibuat oleh APO (Asian Productivity Organization) sebagai upaya untuk mencapai eco-efficiency bagi industri di Asia. Berbeda dengan industri-industri di Eropa dan Amerika Serikat yang telah maju karena akumulasi ekonomi di negara maju, sehingga upaya pengendalian lingkungan diperlakukan secara spesifik pada apsek lingkungan, industri di Asia harus memperhatikan aspek pertumbuhan ekonomi sekaligus upaya meminimalisir dampak lingkungan.

Karena keberagaman industri dari aspek skala ekonomi, teknologi dan regulasi dari industri di kawasan Asia, maka Green Productivity lebih bersifat sebagai umbrella atau payung bagi upaya eco-efficiency yang mengintegrasikan secara paralel aspek produktivitas ekonomi dan dampak lingkungan.

Salah satu aplikasi dari Green Productivity yang telah banyak dilakukan adalah aplikasi GP pada agroindustri karet di Indonesia. Metodologi yang digunakan dalam penerapan GP beragam, mulai dari pemodelan matematika hingga teknik sistem. Upaya yang dilakukan dimaksudkan untuk memetakan kondisi riil agorindustri karet saat ini dan kondisi proyeksi akan datang.

Kondisi riil saat ini, rantai pasok agroindustri karet lemah di sisi hulu dalam hal kualitas dan kuantitas, sedangkan di sisi hilir adalah hilirisasi industri karet yang masih lemah. Selama ini, output dari agroindustri karet adalah produk intermediate berupa SIR, RSS, Brown Crepe dan lateks sebagai bahan baku industri hilir ban motor/mobil, sarung tangan, dan kondom.

Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, maka upaya yang dapat dilakukan adalah :

  • Penguatan sisi hulu melalui pembentukan supply-hub untuk mengatasi koordinasi rantai pasok, sehingga peran petani yang direpresentasikan oleh supply-hub dapat efektif dan efisien dalam menjaga kualitas dan kuantitas pasokan
  • Penguatan sisi hilir melalui pengembangan produk alternatif
  • Regulasi dalam agroindustri karet yang mendukung upaya-upaya pada sisi hulu maupun hilir

Agroindustri : dari anak tiri menjadi anak emas

Selama ini agroindustri lebih banyak dianaktirikan, terutama sustainable agroindustri yang bukan hanya memperhatikan pertambahan nilai (value added) dari aspek ekonomis, namun dari aspek lingkungan dan sosial. Secara ekonomis, banyak sekali agroindustri yang banyak mendatangkan keuntungan dari investor padat modal, namun kurang memberikan nilai ekonomis tinggi kepada petani. Sehingga banyak sekali agroindustri yang dikuasai oleh pemodal besar dengan rente ekonomis yang tinggi tanpa memberikan share keuntungan yang besar kepada para petani.

Dalam konsep rantai pasok, petani hanya dijadikan sebagai “pelaku luar” sehingga peraup keuntungan hanya sampai dengan pedagang antara. Sehingga dari aspek sosial, agroindustri hanya memberikan Corporate Social Responsibility kepada pelaku lain seperti petani dan pedagang antara level rendah. Belum lagi beberapa agroindustri dianggap sebagai environmental consuming dan memberikan environmental burden bagi lingkungan. Hal ini memunculkan berbagai kontradiksi dalam agroindustri.

Oleh karena itu tantangan terbesar bagi aplikasi OR/MS adalah dilakukannya modifikasi terhadap metodologi, metode dan teknik yang semula didesain untuk industri non-agro menjadi fit atau sesuai dengan konteks agroindustri. Oleh karena itu metodologi jamak atau multi-metodologi diperlukan dalam mendesain intervensi sistem agroindustri. (Lebih lanjut mengenai pemodelan sistem dan multi-metodologi dapat di-click).